Hening menerpa malam yang tenang,
sepi. Tak ada yang mengisi sekitar
masjid kecil kecuali seorang pemuda
masjid, mereka memanggilnya
"takmir". Menyendiri bukan kebiasaan
bagi si Amir, si pemuda masjid. Tapi,
suatu hal menjadi alasan
renungannya.
Selintas teringat pelajaran kimia, pak
Roni bertanya. Kebetulan Amir
ditunjuk menjawab pertanyaan pak
Roni. " Mir, kamu nanti, kalau sudah
besar nanti mau jadi apa?"
"Em..apa ya pak?," Bingung dengan
jawaban yang cocok untuk dirinya.
"Wah, kamu jangan sampai gitu!,"
tegur pak Amir dengan nada dewasa
dan lembut.
"Ah, kalau saja aku bisa jawab. Pasti
gak sampai ditegur," Sesal Amir di
tengah kesendirian malam.
"Tapi, apa juga cita-citaku. Juara
cuma 1 kali. Itu juga peringkat 10."
Malam penuh dengan bintang
berkilauan, terlentang di halaman
luas masjid yang indah. Bingung,
itulah kata tepat untuk si pemuda
masjid ini.
"Ibu... Ayah... Apalah cita-cita terbaik
buatku. Ya Allah, apa cita-cita itu
dpat tercapai bila aku
mengharapkannya. Kudengar, banyak
mereka yang bercita, tapi saat
dewasa tak sesuai dengan
harapannya."
"Ah, sudahlah aku memikirkannya!.
Mau jadi apa ya terserah."
Oleh: Rudyanto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar