"Ampun, Kang!" rengek wanita paruh
baya, wajahnya lembut dan
memancarkan kecantikan yang
matang. Dia berlutut dengan tangan
menyembah. Tubuhnya gemetar
ketakutan. Rambut awut-awutan.
Bajunya compang-camping, kulit
kuning langsat yang menggoda
terlihat di sana sini. Air mata
mengalir deras tak terbendung.
Berharap laki-laki di depannya
mengasihani keadaannya.
Namun, yang ia terima hanyalah
pukulan dan tendangan. Duukk!
Tendangannya tak terlalu keras.
Namun mampu menggoyangkan
pinggul padat wanita itu, dan dua
buah benda besar yang
menggantung di dada.
Mata laki-laki yang di hadapannya
makin beringas. Mata merah
menyala. Amarah meluap. Tangan
dan kaki lincah memukul dan
menendang. Biji mata hitam sejak
semula selalu memperhatikan buah
dada yang besar. Lidah laki-laki itu
seringkali membasahi bibirnya yang
kering kerontang. Sungging senyum
birahi makin naik ke ubun-ubun.
"Aku akan membebaskan utangmu
tapi dengan satu syarat. Bagaimana?
Jika syarat ini engkau penuhi, aku
akan anggap engkau tak punya
hutang lagi," ucapnya sangar. Kali ini
dia membentak sambil memilin
kumisnya yang tebal.
"Katakan Kang! Asal aku mampu,
akan kuusahakan."
"Engkau harus bersedia menjadi
istriku."
Wanita tersebut tercengang. Apa
yang didengarnya merupakan pecut
yang amat menyakitkan. Tidak! Tidak
mungkin aku menghianati Sumain.
Laki-laki jujur penuh tanggung jawab.
Meski dua tahun ini pergi. Tapi,
kepergiannya adalah merantau.
Mencari sesuap pangan untuk aku
dan anakku, Sukinah.
"Bagaimana? Suamimu dua tahun
telah meninggalkan kalian.
Sekarang
engkau hanya berdua. Utangmu pun
telah membukit. Kalau hanya bekerja
buruh tani, meski 5 tahun menyimpan
itu takkan mampu membayarnya. Itu
pun belum dengan bunganya," suara
laki-laki ini terdengar menyeramkam.
"Ampun, Kang! Aku tidak berani
menghianati Kang Sumain," ucap
wanita itu sembari menangis.
Mendengar jawaban ini, laki-laki itu
kemudian memberi aba-aba pada
anak buahnya. Begitu melihat aba-
aba itu, mereka dengan senyum
penuh nafsu mengangkat paksa
wanita tersebut.
Ia pun meronta sekuat tenaga. Kaki
dan tangannya dijadikan alat
memukul dan menendang laki-laki
yang hendak mengerubunginya. Tapi
apalah daya, seorang wanita yang
sudah payah karena disiksa sejak
tadi, ditambah laki-laki yang
mengerubunginya sebanyak 4 orang.
Tak lama ia pun tertangkap.
Mereka membawanya ke salah satu
kamar kosong. Dihempaskannya
wanita itu. Sebagian memegangi
tangan, sebagian kakinya, sebagian
lagi melucuti pakaiannya. Hingga
benar-benar telanjang bulat. Akhirnya
wanita ini hanya mampu
sesenggukan dalam hatinya.
Mengumpat dan menahan beban
berat di pundaknya. Erangan dan
tawa-tawa kecil penuh biadab mereka
tunjukkan.
Di sisi lain. Laki-laki yang berkumis
tebal memasuki sebuah kamar kecil.
Remang-remang dilihatnya sesuatu
yang mirip dengan orang tidur
sedang berselimut. Disibaknya
selimut itu, ia pun kaget. Ternyata
hanya guling kempes dan tumpukan
kain. Belum sempat rasa kagetnya
hilang. Tiba-tiba laki-laki ini
mengerang sembari memegang
sebuah golok yang tertancap tepat di
rusuknya.
Di sampingnya berdiri seorang anak
perempuan kurus. Matanya merah
penuh dendam. Mulutnya tertutup
menahan suara. Badannya menggigil
tak terkira. Selangkah kakinya ia
mundurkan. Kemudian, dengan cepat
ia pun berlari ke arah gelapnya
malam. Tanpa suara.
Sedangkan laki-laki berkumis
mengerang keras bersamaan dengan
erangan wanita separuh baya. Malam
pun semakin menggulita. Suasana
pun menjadi sunyi senyap.
Pagi hari, warga digegerkan dengan
penemuan dua sosok mayat. Satu
laki-laki berkumis yang mereka kenal
sebagai rentenir, dengan luka bacok
pada rusuk kirinya. Serta wanita
setengah baya dalam keadaan yang
mengenaskan. Telanjang tanpa
sehelai kain pun, darah mengalir dari
leher dan vaginanya. Bau anyir
sekejap menyesaki pernafasan
warga.
Oleh Buya Khalid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar