Event Hari Guru "Syair Pembawa Berkah"

Event Hari Guru "Syair Pembawa Berkah"

Sejak duduk di bangku madrasah
tsanawiyah, aku dikenal sebagai Ratu
Syair. Hanya karena hobbiku menulis
puisi, teman-teman
menganugerahkan gelar tersebut
padaku. Padahal diksi puisiku sangat
biasa, malah jauh dari kesan
sempurna. Tapi karena aku satu-
satunya yang bisa berpuisi, jadilah
decak kagum mengitariku.
Saat aku duduk di kursi kelas XII
aliyahpun gelar itu masih melekat,
bahkan menjadi keuntungan
tersendiri buatku. Masa SMA atau
aliyah terkenal dengan masa yang
paling menyenangkan. Waktunya
mengenal lawan jenis lebih dekat.
Perasaan suka mulai merajalela,
bahkan sampai menimbulkan
bencana. Beruntung masa aliyah
kuhabiskan di salah satu pondok
modern di Jambi. Jadi, aku tak perlu
khawatir dengan istilah cinta monyet.

Tapi bukan hal mustahil kalau di
pesantren juga tersebar virus
tersebut.
Di sinilah labaku dimulai. Walau
larangan pacaran telah tercatat
dalam pelanggaran berat, tetap saja
banyak pasangan cinta monyet yang
bergelantungan. Karena larangan
membawa handphone juga berlaku di
pesantrenku, sebagian teman yang
terjangkit virus merah jambu harus
melakukan cara klasik untuk
berkomunikasi dengan pasangannya.
Dalam satu minggu aku harus
membuat 7-10 kalimat syahdu yang
tertulis rapi di lembaran pink, biru,
atau ungu. Walau terkadang lelah,
aku cukup puas dan bersyukur
dengan otakku. Karena satu puisi
yang kuhargai Rp. 3000,- lumayan
menambah uang saku.

@@@
Hari ini, aku tak tahu apakah harus
menyebutnya bencana atau takdir.
Temanku, Fia merasa kagum pada
senior ikhwan. Niat membantu,
akupun menuliskan surat untuknya.
Malangnya, surat yang harusnya
untuk senior ikhwan itu, malah
nyasar di tangan Ustad Al, salah satu
pengajar di pondok. Saat itu, ingin
rasanya aku tenggelam di dasar
bumi. Tapi apalah daya. Nasi telah
menjadi bubur ayam. Sejak hari itu,
godaan teman dan senior menjadi
cemilan rutinku. Dan Ustad Al?
Entahlah, untuk berpapasan dengan
Beliaupun aku tak kuasa. Fia?
Walaupun dalam surat itu aku hanya
menyebut inisialnya, tetap saja dia
terserang sindrom panik, harap-harap
cemas. Selalu bertanya apa yang
harus dilakukan. Pikiran-pikiran
negatif melandanya. Hingga tak ingin
lagi memintaku membuat surat
untuknya.

@@@
Beberapa minggu setelah insiden
tersebut, aku dipanggil Ustad Al ke
rumahnya. Pikirku sanksi akan
menyambut kedatanganku. Tapi saat
tiba dikediaman, aku malah disodori
sampel undangan wedding Beliau,
dan ternyata mempelainya adalah Fia,
sobatku.

“Syukron[1], Tika. Berkat syairmu,
Ana[2] berjodoh dengan Fia.” Kata
Ustad Al. Aku sendiri tak mampu
berkata-kata. Bingung dengan
kebingunganku. Dan tersenyum malu
saat melihat puisiku terpampang
nyata di lembaran akhir undangan
tersebut.
Parasmu  selalu memenuhi otakku
Senyummu bersemayam dihati
Cahaya matamu ...
Ya, mata itu selalu buatku terjaga
dimalam-malam sunyiku
Man anta? Ya akhi bersarung hijau ...
“F”

@@@
Sejak saat itu, aku dan Ustad Al
menjadi dekat. Hingga julukanku
bertambah satu. Anak emas Ustad
Al. Hal yang paling kusyukuri adalah
12 februari 2011 (saat surat tersebut
nyasar di tangan Ustad Al), menjadi
perantara-Nya dalam memenuhi
separuh agama bagi guruku.

[1] Terimakasih, dalam bahasa Arab
[2] Saya, dalam bahasa Arab

Oleh Tika Akib




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top